Jakarta Sebelum Tertidur

Desember 04, 2016 14 Comments A+ a-


Senja di Jakarta. Sumber Gambar: Panoramio.com
2 minggu ini kita mulai terbiasa pulang pergi ngantor pakai angkutan umum. Dari Kopaja sampai Uber, dari Ojek Pangkalan sampai Ojek Digital merupakan teman setia kita menjalani hari. Si Ecosport belum bisa menemani kita karena selama dua minggu ini dia harus nginep di Bandung dulu karena mau servis 40 ribu kilometer.

Cerita naik Kopaja atau Uber mungkin diceritakan nanti di postingan terpisah ya (nanti ini dikasih link). Ini cerita seputar kehidupan senja di Jakarta. Seputar hirup pikuk manusia menuju tempat peristirahatan sementaranya untuk sekedar memejamkan mata juga mengistirahatkan raga.

Setiap senja menjemput kita bergegas untuk meninggalkan kantor, tango adalah sahabat kita dan lembur adalah musuh kita. Selagi bisa tango kenapa harus berlama-lama di kantor, masih banyak tempat dan waktu menanti untuk kita jelajahi.

Melalui trotoar SCBD dari arah Gatot Subroto saya berjalan menuju Sudirman untuk menghampiri seseorang, melewati Pacific Place juga Gedung BEJ. Sepanjang jalan saya perhatikan banyak sekali driver Ojek Digital berlalu lalang sambil sesekali membuka ponsel lalu bergegas menghampiri destinasi tempat dimana mereka bisa menjemput konsumen mereka.
Sumber Gambar: Liputan6.com

(semoga lancar ya Pak dan selamat sampai tujuan)

Kurang lebih 10 menit berjalan kaki saya akhirnya tiba di gedung samping BEJ, menghampiri seseorang dan setelah itu melanjutkan perjalanan. Begini kurang lebih rutinitas kita selama 2 minggu ini.

Dari Sudirman kita berdiskusi sejenak, menentukan arah kemana kaki melangkah. Solusi tepat adalah ke tempat dimana kita bisa mengisi perut yang mulai keroncongan atau sekedar melepas dahaga. Dari sini biasanya kita memilih untuk menggunakan Trans Jakarta, jalan sedikit menuju halte Gelora Bung Karno atau halte Polda kita sudah sampai.
(buat yang mau tau rute Trans Jakarta bisa dicek disini)

Suasana sore hari ini sangatlah menyenangkan, mengingatkan pada susana di Bulan Puasa. Kiri-kanan sepanjang trotoar banyak sekali pedagang makanan mengasongkan produknya, ada yang jual tempe mendoan, tahu isi, minuman rasa-rasa dan bahkan pisang Sunpride pun ada. Di sepanjang JPO ada pula Abang-Abang yang jualan ID card holder, kaos kaki, masker, tissue dan lainnya. Melihat hal tersebut kadang terlintas di pikiran bahwa seharusnya kita merasa sangat bersyukur atas apa yang telah Allah SWT berikan kepada kita dan keluarga, jangan lagi mengeluh mengingat telah banyak rejeki yang kita terima. Saat senja menjemput, kita bisa bergegas menuju rumah untuk beristirahat dan bersenda gurau bertemu sanak keluarga. Namun saudara kita yang lain masih ada yang harus membanting tulang, mencari rejeki, mengadu nasib untuk sekedar menyambung hidup. Alhamdulillah
(jangan lupa untuk sesekali membeli produk mereka guna berbagi kebahagiaan bersama mereka)

Sambil berbincang di tengah perjalanan tak terasa akhirnya sampai juga di halte Trans Jakarta Gelora Bung Karno, tempat makan yang dituju biasanya selalu menjadi perdebatan bagi kita, tapi jika sudah sampai di halte biasanya tujuannya sudah jelas. Selama 2 minggu itu tempat makan yang pernah kita sambangi adalah Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih, Kedai Kopi Sabang 16, kedai kaki lima di Jalan Sabang, dan Warung Pak Gendut Sarinah (naik Trans Jakarta koridor 1 arah Kota turun di halte BI), Restoran Padang Surya Benhil (naik Trans Jakarta koridor 1 arah Kota turun di halte Benhil), Mie Ayam depan Ratu Plaza (ini jalan aja atau naik Trans Jakarta koridor 1 arah Blok M turun di halte Senayan), kaki lima Soto Ayam depan Fx (ini jalan aja). 
(review tempatnya menyusul ya)

Malam semakin larut, jika perut telah terisi dan dahaga telah terobati maka selesailah aktivitas senja kita, karena raga sudah semakin lelah maka tujuan selanjutnya adalah pulang menuju tempat peristirahatan kita, tempat yang biasanya orang-orang menyebutnya "rumah". Ditemani Trans Jakarta atau Uber kita sampai di rumah sekitar pukul 9 atau 10 malam. Sekedar membasuh muka atau membasahi tubuh, setelah itu bergegas menuju pangkuan tempat tidur untuk memejamkan mata dan terlelap di dalam indahnya malam.

Jadi setelah kurang lebih selama 2 minggu kita mencoba angkutan umum ternyata memang beda rasanya, banyak hal yang tidak kita peroleh selama pulang pergi kantor hanya dengan kendaraan pribadi, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari para penikmat senja dan para pejuang senja.

Selamat malam Jakarta
mohon maaf kalau post kali ini sedikit puitis haha

#inklocita

We run the blog together while going places, food tasting, and doing many many things in between

14 comments

Write comments
Ria Tumimomor
AUTHOR
5 Desember 2016 12.29 delete

lebih lama lagi nyoba angkot, pasti pikirannya beda :)

Reply
avatar
Inklocita
AUTHOR
5 Desember 2016 20.58 delete

wahaha iya tuh, kita seringnya cobain angkot di Bogor/Bandung, yang angkot paling ga santai se Pulau Jawa haha

Reply
avatar
7 Desember 2016 22.20 delete

Jadi inget kemarin abis liburan di Jakarta ceritanya. Terus kemana-mana lebih mengandalkan naik grab, uber, sama gojek karena nggak tau jalan. Enak sih jadi dimanjain. Beda banget sama di Bandung jadi angkoters :))

Reply
avatar
8 Desember 2016 14.50 delete

hallooo mbak, salam kenal :) Ngebacanya serasa ikut menelusuri jalan2nya.
Sungguh Jakarta menyuguhkan banyak rampai kehidupan.
Segala tingkatan ada .

Naik kereta, taxi, PPD, Kopaja, Busway, Metromini, angkot, go-car, ojek .. pernah kualami.
Berdesakan, menggelantung, tukang ngamen, ...etc
Jakarta selalu menggairahkan setiap jiwa untuk memburu kehidupan di sana.

Nice article .. Jakarta i miss U !

Reply
avatar
Gara
AUTHOR
8 Desember 2016 19.03 delete

Betul banget... ke mana pun kaki melangkah pasti ada cerita, karena ada banyak manusia yang kita jumpai dalam setiap langkah kaki kita. Berhubung saya kantor bukan di poros ekonomi Sudirman-Thamrin itu jadi magisnya senja di bawah naungan pencakar langit itu jarang saya temui, haha. Tapi magisnya bisa saya rasa dalam tulisan-tulisan seperti ini. Yuk ah kapan-kapan boleh juga senja-senja jelajah Sudirman, haha. Sekadar mencari aura kuat dari sebuah megapolitan. Hehe.

Reply
avatar
Dyah Yasmina
AUTHOR
10 Desember 2016 00.33 delete

Kalau aktivitasnya di sekitaran SCBD, bisa makan di kaki lima dekatnya fX tuh. Ada gerobak pecel ayam yang menyediakan sambal hijau dan sambal merah. Enak banget! Kalau mau jalan jauh, bisa ke pintu barat Senayan arah TVRI (jalannya lumayan jauh) buat makan sate taichan.

Reply
avatar
Inklocita
AUTHOR
11 Desember 2016 09.57 delete

iya bener banget sih kalau naik uber/grab lebih gampang kemana-mana. Cuma ya itu dia kadang kalau lagi di peak hour ada semacam pengali harga jadi mahal :(

Reply
avatar
Inklocita
AUTHOR
11 Desember 2016 09.58 delete

waah iya betul sekali Mbak, dari komennya nih skrg udh ga di Jkt lagi ya kayaknya? btw thankyou Mbaknyaa

Reply
avatar
Inklocita
AUTHOR
11 Desember 2016 09.59 delete

haha bener sih, atmosfernya beda, suasanya khas memang

Reply
avatar
Inklocita
AUTHOR
11 Desember 2016 09.59 delete

wah boleh nih Mbak rekomendasinya, waktu itu saya baru coba yang soto ayam depan fX

Reply
avatar
29 Desember 2016 19.28 delete

Dulu saya pernah kerja di deket Sarinah. Ga sanggup dg macet dan busway yg penuh banget 😁

Reply
avatar
Inklocita
AUTHOR
28 Januari 2017 16.27 delete

iya apalagi sekarang ada pekerjaan mrt, jalanannya makin sempit

Reply
avatar
Prita Hw
AUTHOR
8 Februari 2017 08.51 delete

sesuatu hal yang berbeda juga menyajikan sesuatu yang tak terduga ya mas, banyak cerita, banyak juga hikmah :)

Reply
avatar
Inklocita
AUTHOR
18 Februari 2017 23.31 delete

Iya setuju banget Mbak, dari yang remeh remeh banyak hikmahnya

Reply
avatar